Laman

Minggu, 04 April 2010

Darius, Si Kelinci Raksasa

Kelinci yang bernama Darius ini usianya lebih satu tahun, dan kemungkinan besar dia akan menjadi kelinci terbesar di dunia.

Darius si kelinci muda ini tubuhnya telah melebihi tubuh besar Alice, ibunya. Darius yang kini baru berusia 13 bulan ini panjang tubuhnya telah mencapai hampir 130 sentimeter, dari ujung hidung hingga belakang kakinya.

Berat Darius mencapai 33 kilogram lebih, yang merupakan berat rata-rata kelinci yang telah berusia lima tahun.

Darius mampu menghabiskan 12 wortel, enam apel, dua kubis, dua mangkuk campuran rumput setiap hari.

Darius masih mungkin tumbuh lebih besar lagi. Mantan pemilik toko hewan peliharaan Annette Edwards, yang mengangkat kedua kelinci, mengatakan ia mengharapkan Darius untuk terus bertumbuh sampai enam bulan ke depan hingga mencapai ukuran paling raksasa. (Kompas.com)

Selasa, 30 Maret 2010

ternyata Dunia pernah kehilangan 11 hari di tahun 1752

ada kejadian aneh yang terjadi pada tahun 1752 bulan september, dimana dunia pernah kehilangan 11 hari. pada bulan september tidak ada tanggal 3 - 13. jadi dari tanggal 2 langsung lompat ke tanggal 14. bagi yang pengen lihat, coba aja atur kalender komputer kalian. cuman sayang, buat pengguna windows, tidak bisa melihat kalender tersebut, bagi yang pakek linux, ato yang selain windows, coba deh, set tanggal komputer kalian bulan september tahun 1752.

Spoiler for kalender bulan september tahun 1752:




Spoiler for Berita asli:

The Mystery of the Missing Days

by Bob Brooke

On September 2, 1752, an odd happening occurred that's still keeping genealogists on their toes. On that day, the British Isles and all the English colonies, including America, lost 11 days--September 3 through 13. People went to sleep and when they awoke the next morning, the date had changed to September 14. There were riots in rural villages since the people thought the government was trying to cheat them out of 11 days of their lives. Though these days disappeared in English lands in 1752, a number had already vanished in other places--France in 1582, Austria in 1584, and Norway in 1700.

The British were among the last countries in the world to accept that fact they were using a flawed calendar. The Julian calendar--named after Julius Caesar, who adopted it around 45 B.C.--declared March 25 New Year's Day and added that the year would be 365 days and 6 hours long. The Nicene Council officially adopted the calendar in 325 A.D. As it became possible to measure the length of the solar year more accurately, astronomers found that the Julian system exceeded the solar year by 11 minutes, or 24 hours every 131 years, and three days every 400 years. This excess amounted to 10 days between 325 A.D. and 1582 A.D.

Pope Gregory XIII ordered a new calendar, called the Gregorian calendar in 1582, when most of the world jumped forward by 10 days on October 5, thus restoring the vernal equinox to March 21. To prevent the recurrence of this error, he ordered that, in every 400 years, leap year's extra day should be omitted three times. To accomplish this in an orderly fashion, he omitted the last day of February on centennial years of which the first two digits couldn't be divided by four without a remainder. Thus, it was omitted in 1700, 1800, and 1900, but won't be omitted in 2000.

All Catholic countries, following the edict of the Pope, adopted the new system. But England, then in difficulties with the Church of Rome, refused to go along with the new calendar until the mid-18th century and by then the difference had grown to 11 days. All British lands except Scotland, which changed its calendar 100 years before, now celebrated New Year's Day on January 1. In Russia, the Julian calendar continued to be used.

Despite the official calendar, people in England and the colonies began to use the Gregorian system as early as the 16th century. Thus, many early colonial records include double dates, written as "12 February 1661/1662," indicating that, although it was officially 1661, some considered it to be 1662.

Genealogists, especially those just starting out on their quest for ancestors, need to double-check dates found in English-speaking countries between 1582 and 1752. Are these dates listed as O.S.(Old Style) or N.S.(New Style)? Is there a date listed as 1750/51? That means it would have probably been between January 1 and March 24, which means that 1750 is the old-style notation and 1751, the new one. These double dates occur only in January, February and March--never in any other months and never after 1752.

In addition, dates in the 17th century frequently have the month indicated by its number rather than its name. This was because most of the months had Roman or "pagan" names and the Puritans and Quakers disliked them. Since March was considered the first month of the year before 1752, a date before that might read like this: "13th, 2nd mo:1683." This becomes "13 April 1683." Generally, the day came first and the month second, but to be sure, genealogists make sure by comparing the date with others in the same record.

Frequently, this change in the calendar will explain the birth of two children apparently within too short a period. Thus, if a researcher finds that Joshua and Rachel Smith had a daughter Mary, born 22 March 1638, and from another record a son, Henry, born 27 February 1639, it would seem that they were born 28 days apart, but were actually born 11 months apart, according to old and new-style dating.


nih skrinsut yang lain..
Spoiler for Kalendernya:

subhanallah,,,ada Kucing Berlafadz Allah di Samarinda

Warga Samarinda dibuat geger oleh kehadiran seekor kucing yang kedua sisi tubuhnya terdapat tulisan `Allah`. Kucing berwarna coklat muda itu, dipelihara oleh seorang wakar (penjaga malam, red) bernama Sumadi. Kucing itu kata Sumadi, di Samarinda, Senin, tiba-tiba berada di atas pangkuannya saat berdzikir usai melaksanakan Shalat Isya.



"Saya lupa tanggal pastinya, tapi hari itu Kamis malam, tiga minggu lalu. Kucing itu langsung berada di pangkuan saya dan sempat saya singkirkan, namun kucing berwarna agak kecoklatan tersebut kembali lagi,"ungkap Sumadi saat ditemui di rumah kontrakannya di Jalan Sultan Alimuddin, gang Perjuangan I RT. 4, Kelurahan Sambutan, Samarinda Utara.

Kucing bertubuh gemuk itu, seolah mengerti saat beberapa wartawan mencoba mengabadikan gambarnya. Dengan tenang, kucing peliharaan Sumadi berlengak-lenggok kemudian duduk bersama beberapa wartawan.

Tanpa reaksi, kucing Sumadi tetap tenang ketika salah seorang wartawan mengelus bulunya yang sangat lembut. Begitu pula ketika puluhan warga yang datang ingin menyaksikan kucing yang menurut Sumadi adalah penjelmaan seorang bocah berusia enam tahun yang kerap datang disetiap zikir dan mimpinya.

Sumadi yang mengaku sebagai pensiunan TNI berpangkat Serka, dua hari sebelum kucing yang telah diberi nama Muhammad Wahyu Kalimanto bin Sumadi tiba-tiba berada di pangkuannya, dia didatangi seorang anak kecil berkulit sawo matang berusia enam tahun.



"Sewaktu saya selesai Shalat subuh, seorang anak seolah hadir di depan saya dan mengatakan ingin ikut dengan saya. Anak itu lalu berkata akan makan apa saja saat saya katakan kalau saya ini orang susah dan memiliki sembilang orang anak."

Perlakuan Sumadi dan keluarganya terhadap kucing itu terbilang sangat istImewa. Dua kali sehari, Sumadi menggosok gigi dan memandikan kucing itu dengan shampo. Bahkan, kucing yang meminum satu kaleng susu selama dua hari itu, ditidurkan bersama anak-anaknya.

Setelah berita tentang kucing berlafadz Allah, menyebar, banyak warga yang hendak memiliki kucing itu. Ada yang hendak menukar kucing itu dengan sebuah motor baru, ada pula yang ingin membelinya hingga ratusan juta rupiah.

"Banyak yang menghubungi saya dan mengklaim kucing itu miliknya. Bahkan, ada yang mengaku sebagi pemilik kucing itu sambil membawa seorang polisi, tetapi saya tetap bersikeras kalau kucing itu adalah berkah. Ada juga yang mau menukarnya dengan motor baru, tetapi saya tetap tidak mau,"tutur Sumadi.

Keunikan lain kucing yang diyakini Sumadi akan membawa perubahan dalam hidupnya itu adalah, cara membuang air dan kucing berjenis kelamin jantan itu hanya meminum susu dan tidak makan nasi.



"Dia sangat berbeda seperti kucing pada umumnya. Kucing itu tidak mau berak dan kencing di sembarang tempat sehingga kami siapkan kardus dan dia akan masuk sendiri lalu buang air di dalam kardus itu. Kalau siang, dia tidur dan malamnya dia seolah minta perhatian untuk diperlakukan seperti anak kecil,"ujarnya.

Beberapa tetangga Sumadi yang ditemui mengatakan, setiap hari ada saja orang yang datang ke rumah kontrakan Sumadi untuk menyaksikan kucing aneh tersebut.

"Kucing itu tidak pernah keluar dari rumah pak Sumadi dan dia jinak dengan siapapun, terlebih dengan pak Sumadi dan keluarganya. Ada orang yang pernah datang dan mengaku bersedia membeli kucing itu sampai Rp 200 juta,"ujar tetangga Sumadi